Hari itu aku sedang menikmati makan siang bersama wanita pujaan hatiku. Dalam hati aku sudah memikirkan mau kemana aku motret sore ini. Belum lagi saat ini cuaca sedang tidak bagus untuk memotret. Aku berhara sore nanti cuaca akan cerah.
Karena takut hujan akan turun, kami memutuskan untuk menyudahi kencan hari ini. Akupun mengatar bidadariku pulang. Dari rumahnya aku masih memeperhatikan arah Lombok Tengah yang terlihat masih gelap.
Sekitar setengah jam aku disana dan aku melihat cuaca sudah mulai cerah. Saat itu jam menunjukkan 14.30, aku memutuskan untuk pulang. Setelah pamitan sama ibu camer, aku jalan pulang sambil memikirkan kemana aku akan motret sore ini.
Jarak rumahku dengan rumah bidadariku sekitar 40 menit waktu perjalanan. Sebenarnya, aku sudah punya rencana bahwa sore ini aku akan landscape sunset ke pantai. Tapi aku kira tidak akan keburu. Aku memperkirakan akan tiba dirumah jam empat, belum lagi aku sholat ashar, makan, sekitar jam lima baru bisa jalan. Jarak dari rumah ke pantai 30 menit, lah kalau begini aku tidak akan dapat apa-apa, fikirku.
Dam saat aku akan hampir tiba di rumah, aku melewati sebuah bukit, namanya bukit Gunung Bale Be. Bukit ini adalah pusat tambah batu pasang yang ditambang secara manual, hanya bermodal palu dan alat seadanya. Tidak ada peralatan canggih atau alat-alat besar disini. Yang menambang juga penduduk lokal.
Bukit itu sudah seper empat habis ditambang. Konon katanya, bukit Bale Be tidak akan bisa habis ditambang, bahkan hingga haru kiamat. Bahkan menurut pandanganku, 10 tahun yang lalu hingga hari ini, bukit ini masih saja seperti ini walaupun setiap hari ditambang.
Entah siapa dan kapan bukit ini mulai ditambang. Dan rencana sore ini, aku akan memotret pemandangan Gunung Mereje, Lombok Tengah dari atas bukit ini.
Kebetulan saat itu baru selesai hujan, dan ini adalah momen yang sangat indah untuk memotret. Warna cerah, cuaca tidak terlalu panas, membuat aku kembali ke bukit ini setelah tadi aku sempat melihat pemandangan dari atas bukit.
Aku segera pulang mengambil semua perlatan dan perlengakapanku untuk motret. Diteman adek misanku, setelah tiba di puncak bukit, aku segera membuka semua peralatanku dan mencoba beberapa gambar.
Aku disana hingga matahari benar-benar hilang dari pandanganku.
Pemandangan desa dari atas bukit, lumayan indah. Sinar kendaran yang lalu lalang di pinggir jalan, terlihat dari sini. Pesawat yang naik dan turun, terlihat sinarnya menyinari angkasa dari sini.
Agar tidak kemalaman pulang, karena kami juga harus menuruni bukit, akhirnya setelah mendapat beberapa gambar, kamipun memutuskan untuk pulang.
Cerita dari puncak bukit Gunung Bale Be, pusat tambang manual Batu Pasang Lombok Tengah bagian Selatan.
0 komentar:
Posting Komentar