Jadi tenda kami sebenarnya muat
untuk dua orang saja, tapi tiga orang bisa masuk dan sangat pas-pasan. Tapi
kali ini harus diisi oleh empat orang. Dan bisa kalian bayangkan, empat orang
tidur tenda berukuran dua kali satu setengah meter. Apa yang terjadi didalam
sana.
Kami sudah mencoba semua format
tidur agar semuanya kebagian tempat, tapi tidak pernah ada format yang pas.
Mungkin penghuni tenda yang lain sedang menikmati hangatnya malam didalam tenda
msaing-masing. Tetapi kami disini masih sibuk mengatur format tidur kami di
tendan mungil ini. Bahkan diataran semua tenda yang ada, tenda kami adalah
tenda paling kecil dengan jumlah penduduk paling banyak. Sempurna bukan.
Aku dan heri pernah mencoba
mengeluarkan kaki kami keluar tenda, sementara setengah badan kami berada
didalam tenda. Tapi tidak sampai tidur, malah dingin menggigit terlebih dahulu
sehingga format harus kembali dirubah. Dan begitu seterusnya, berputar dan
mencari format yang pas hingga kami lelah berputar dan tidur untuk sesaat. Mungkin tidak banyak waktu kami tidur, tetapi
cukup untuk mengantar kami menyambut sinar mentari pagi.
Aku terbangun lebih awal, aku
ingin melihat sunset. Dan satu jam aku menunggu, aku tidak mendapatkan apa yang
aku inginkan. Meskipun mata lensaku sudah siap membidik setiap keindahan yang
akan tampak didepan mataku. Tapi paling tidak sinar mereah pagi itu sangat
indah dan tidak aku lewatkan dengan percuma.
Pagi itu kami benar-benar
menikmatinya. Disaat semua orang sedang sibuk berkemas untuk siap-siap turun,
aku dan Hery sedang sibuk menikmati indahnya pagi ini. Aku menjajaki sejauh
yang aku bisa bersama Hery. Mencoba beberapa tehnik fotografi yang selama ini
aku lihat di internet.
Dan pendakian pertamaku
benar-benar sangat indah dan sangat berkesan.
Begitulah aku meninggalkan
ketinggian 2300mdpl, Nanggi.
Cerita Nanggi, 2300mdpl, 27
November 2016.
Oget
ID.
0 komentar:
Posting Komentar