• Twitter
  • Facebook
  • Instagram
  • Youtube

Senin, 16 Oktober 2017

Menuju Puncak Tertinggi di Lombok, Rinjani - Day 1


Ini adalah perjalanan yang sangat panjang, melelahkan dan lumayan berat. Ya, kali ini saya akan mendaki menuju puncak tertinggi di Lombok, puncak tertinggi di NTB bahkan salah satu puncak tertinggi di Indonesia.

Gunung Rinjani, mungkin nama gunung ini tidak akan asing kalian dengar, karena gunung ini merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif. Gunung Rinjani terletak di Lombok, tepatnya Lombok bagian utara.

Motifasiku naik gunung kali ini adalah sebagai anak Lombok asli, sudah seharusnya aku tau apa saja kekayaan yang ada di rumah sendiri, Lombok tentunya. Dan salah satu kekayaannya adalah Gunung Rinjani yang begitu indah. Sayangnya, sedari kecil aku belum pernah mendaki Gunung Rinjani, akan tetapi tekatku bahwa suatu hari nanti aku pasti akan bisa berdiri di puncak tertinggi di Lombok, Rinjani.

Dan hari itu pun telah tiba. Kami memnyiapkan segala macam perbekalan dan perlengkapan. Kali ini aku berangkat hanya berdua bersama seorang temanku yang sebelumnya pernah dua kali menuju puncak, dan ini adalah kali pertama untuk aku sendiri. Aku begitu antusias untuk memulai perjalanan ini.

Hari Sabtu pagi, setelah semalaman kami paking, kami berangkat dari Lombok Tengah jam 7 pagi, dan tiba di Lombok utara jam 11. Kami akan memulai perjalanan dari Pintu Senaru, Lombok utara.

Notte:
Untuk kalian yang ingin mendaki, kalian bisa mulai dari Pintu Senaru di Lombok Utara atau melalui Pintu Sembalun Lombok Timur, masing-masing memiliki nilai plus minus. Setiap pintu memiliki tempat parkir inap untuk kalian yang membawa kendaraan pribadi.
Akan tetapi sangat disarankan, sebaiknya kalian menggunakan kendaran antar jemput, karena ini lebih baik.

Dan setelah mempersiapkan segala sesuatunya, akhirnya kami memulai perjalanan jam 12. Dan saat kami mulai, kami mulai berjalanan dari sebelum pelawangan atau loket tempat pembeliat tiket masuk. Dikarenakan saat itu kendaraan tidak bisa mengantar kami ke Loket pintu gerbang karena jalanan sedang diperbaiki.

Dari situ, perjalanan sudah mulai menanjak, menanjak tanpa henti hingga sampai ke pelawangan atau pintu gerbang pendakian. Dan setelah membeli tiket dan mengurus administrasi, kami melanjutkan perjalanan.

Jika kalian mendaki melalui Pintu Senaru, maka saat memulai perjalanan kalian akan disambut dengan hutan belantara ala pegunungan. Ya, perjalanan kami langsung memasuki hutan hingga entah seberapa jauh akut tidak tahu, dimana aku harus berhenti atau dimana posnya pun akau tidak tahu mengingat ini adalah perjalanan pertama bagiku.

Menurut temanku yang pernah melewati jalan ini, hutang ini cukup jauh dan panjang. Akan tetapi, dia belum pernah memulai perjalanan dari Senaru sehingga dia tidak bisa memperkirakan berapa lama kami sampai di pos pos tempat nge camp.

Dan kami terus berjalan, perjalanannya cukup menanjak dan terus menanjak, hanya sedikit jalan yang datar atau landai. Yaa namanya juga naik gunung, tentunya jalanannya terus naik. Tapi mungkin tidak seperti yang lain, saat kami memulai perjalanan, jalanan terus dan terus menanjak. Kami bahkan mulai sangat merindukan jalanan yang datar.

Untuk diketahui, kecepatan jalan saya adalah sangat lambat, bahkan mungkin lebih lambat dari kecepatan jalan cewek. Harap dimaklumi, karena ini adalah pendakian pertama saya ke Rinjani. Sehingga waktu yang kami tempuh menurut kami adalah waktu yang paling lama, waktu yang paling santai. Tidak ingin terlalu memaksakan diri, jika capek kami langsung berhenti.

Tanpa terasa, kami sudah berjalan berjam-jam, hingga tibalah kami di Pos 1, kira-kira jam 4 sore. Sedangkan menurut perhitungan kami, dari Pos 1 ke Pos 2, jarak temput waktu normal atau cepat sekitar 2 jam, akan tetapi kami tidak mungkin bisa sampai dalam waktu 2 jam, jadi perkiraan kami akan sampai dalam waktu 3 jam.

Tanpa berlama-lama, kami pun melanjutkan perjalanan. Kami terus dan terus berjalan, sementara hari sudah semakin sore dan kabut pun mulai memasuki pegungungan. Suasana mulai dingin, akan tetapi rasa dingin ini pun tidak terasa karena keringat yang terus mengalir.

Rencananya, kami mau ngecamp di Pos 2, akan tetapi menurut beberapa pendaki lokal yang kami temui, disarankan untuk tidak ngecamp di Pos 2 dikarenakan temat tersebut tidak aman dari gangguan mistis. Dan benar saja, saat kami tiba di Pos 2, area ngecamp memang tidak luas, selain itu juga banyak monyet.

Sementara saat itu sudah pukul 6 sore, kami kembali bergegas. Target kami adalah kami harus keluar dari hutan rimba. Menurut temanku, Pos 3 temptanya cukup jauh, tidak mungkin akan bisa terkejar, akan tetapi saat ini kami harus bisa keluar dari hutan ini untuk mencari tempat nge camp.

Hari pun sudah mulai gelap, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan senter. Sedikit kejadian, sore menjalang malam saat itu, tiba-tiba kaki ku sakit. Setiap kali menaiki jalanan, otot-otot kakiku kencang dan kesakitan. Dan parahnya lagi, yang sakit dua-duanya, sehingga ini semakin memperlambat laju perjalTanan kami.

Tidak ingin memaksakan diri, setiap capek aku duduk istirahat, sebelum kakiku sakit, aku istirahat. Itulah kenapa aku mengatakan bahwa perjalanan kami adalah perjalanan yang sangat lambat, bahkan mungkin lebih lambat dari perjalanan seorang cewek.

Hari sudah mulai malam, takut, kami tidak takut khususnya aku sendiri. Tidak ada rasa takut, rasa takutku kalah oleh rasa lelah ini. Rasanya aku ingin membangung tenda disini saat ini juga karena begitu capek dan kamipun sudah mulai lapar.

Disatu sisi kami terus berjalan sesuai kemampuan, target kami saat ini dirubah, target adalah yang penting kami menemukan tempat ngecamp terdekat atau tempat dimana kami bisa mendirikan tenda, maka disitu kami akan istirihat.

Ngomong-ngomong, sejauh dan selama ini, tidak ada pendaki yang pernah mendahuli kami. Artinya kami adalah pendaki paling belakang yang naik, selebihnya hanya pendaki yang turut. Jika ada didepan kami, entahlah kami tidak tahu seberapa jauh mereka.

Dan akhirnya, jam 8 malam, kami menemukan tempat untuk ngecamp. Kami sepakati untuk membangung tenda disini, meskipun saat ini kami tidak tahu posisi kami apakah ini adalah Pos Bayangan Pos 3 atau mungkin tidak. Yang jelas, di tempat ini pernah ada yang ngecamp sebelumnya melihat beberapa abu bekas kayu bakar.

Maka, kami pun menghabiskan satu malam pertama disana.

Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

Send Me Your Mail


Mohon Kritik dan Saran

Kirimkan kritik dan saran Anda untuk membantu blog ini lebih baik.

Apabila Anda punya pertanyaan, dapat juga melalui komentar.