• Twitter
  • Facebook
  • Instagram
  • Youtube

Sabtu, 03 Desember 2016

Nanggi 2300 mdpl | Part 3



Dan kami menemukan 2 orang pendaki yang juga sedang beristirahat ditempat yang sama bersama kami. Tapi kami memutuskan untuk memulai perjalanan lebih awal. Melihat ke atas, langit sudah mulai gelap. Aku tidak tahu apakah itu mendung atau hanya awan. Yang jelas itu tidak akan menghalangi semangat kami dan kami tetap semangat untuk menuju puncak.
Ihsan yang sudah tidak tahan dengan urusannya sendiri, membuka bekal dan mulai ngemil sambil jalan. Katanya sarapan tadi pagi dari rumah sudah tidak terasa, ia membutuhkan pasokan energi yang lebih banyak. Dan mungkin kami adalah pendaki yang paling ribut jika ada pendaki yang lain. Tidak jarang kami berteriak, harapannya semoga ada yang membalas teriakan kami. Walau saat ini hanya diatara kami saja yang membalas teriakan tersebut.

Sekarang keadaan menjadi gelap, aku tidak tahu apakah ini awan, embun atau mendung yang membawa hujan. Jarak pandang hanya sekitar tiga meter, puncak tidak terlihat sama sekali, gelap. Dan kami harus cepat sebelum hujan turun. Aku tidak tahu apakah itu suara hujan atau angin, dan suara penghuni alam saling ambut mengiringi perjalan kami. Secepat-cepatnya kami berjalan, kami tidak akan bisa menempuh jarak sepuluh meter dalam waktu 10 menit. Stamina kami sudah mulai terkuras, jarak pandang sudah semakin dekat, dan gerimis mulai turun.
Persiapan yang ada hanya satu jas hujan, bahkan mungkin ini tidak cukup untuk menutupi barang bawaan kami. Yang cukup riskan adalah kamera yang kami bawa. Harga yang tidak sedikit untuk dua kamera yang kami bawa. Dan ini menjadi prioritas kami diantar hujan.
Kami sempat bertemu beberapa pendaki yang turun, bahkan kami bertemu 3 bule dari Polandia yang hanya 45 menit dipuncak dan turun kembali. Katanya mereka ingin melanjutkan perjalan ke Rinjani. Untuk kami, mereka adalah pendaki super. Bagaimana tidak, bayangkan saja mereka bercerita untuk sampai ke puncak dibutuhkan sekitar 4 jam, dan bule ini hanya 45menit diatas kemudian turun. Tapi mungkin karena mereka hanya membawa diri, sehingga mereka bisa jalan lebih cepat. MUNGKIN.
Sekarang kami harus membuka jas hujan. Pertama kami harus memastikan semua barang kami aman, selanjutnya kami. Mungkin jika bisa tidak kena hujan, tapi nyatanya setengah badan kami basah. Bahkan diantara hujan itu, sempat kami berfikir, apakah memang seperti ini perjalanan menuju puncak. Tapi mungkin karena saat ini musim hujan, atau mungkin cuaca gunung memang berbeda. Sementara itu kami tidak bisa melihat sekitar kami, gelap dan sangat gelap. Kami tidak tahu saat ini kami sudah berada diketinggian berapa, yang jelas saat ini kami sudah 2 jam perjalanan. Jika 4 jam perjalan, maka tinggal 2 jam lagi kami harus berjalanan. Tetapi jika hujan ini tidak berhenti, mungkin ceritanya akan berbeda.
Dan setelah kurang lebih 15 menit, hujan sudah mulai reda dan kami menajutkan perjalanan. Tapi kami belum berjalan satu jam, hujan kembali turun. Dan kamipun kembali berteduh. Jika sebelumnya kami berteduh ditempat yang datar, kali ini kami berteduh ditempat yang miring dibawah pohon. Saat satu sisi bisa selamat dari hujan, satu sisi sedang basah-basahan. Dan begitulah seterusnya. Kami saling bergantian basah-basahan.

To Be Continou...

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

Send Me Your Mail


Mohon Kritik dan Saran

Kirimkan kritik dan saran Anda untuk membantu blog ini lebih baik.

Apabila Anda punya pertanyaan, dapat juga melalui komentar.