• Twitter
  • Facebook
  • Instagram
  • Youtube

Minggu, 04 Desember 2016

Nanggi 2300 mdpl | Part 4



Jika mendaki gunung hanya akan menceritakan tentang pahitnya saja tanpa manis, maka aku akan segera turun. Tapi aku yakin ini menjadi cerita yang sangat indah untuk diceritakan. Berbeda dengan cerita yang hanya datar-datar saja tanpa adanya bumbu pahit didalamnya. Semua ini akan meninggalkan kesan yang amat mendalam dan sangat kuat untuk kami ingat, kami kenang dan kami ceritakan kelak.
Suasanya hening, mungkin masing-masing dari kami sedang berfikir, apakah memang seprti ini. Sementara suara hewan gunung seperti sedang menertawakan kami yang sedang diguyur hujan. Tapi kami tahu ini hanyalah gertakan alam yang ingin melihat sejauh mana semangat kami, sebesar apa tekat kami, dan sekuta apa kekuatan kami untuk bisa sampai kepuncak.
Aku mencoba menerobos hujan diantara gelapnya kabut, mungkin diatas keadaan akan berbeda. Mungkin lebih cerah, atau mungkin gak ada hujan, atau mungkin mungkin yang lainnya. Aku meninggalkan tas dan teman-temanku dan aku mencoba melangkah dengan lebih ringan. Tetapi sepertinya sama saja.
Dan akhirnya kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami harus lebih cepat untuk tiba dipuncak karena cuaca sekitar masih gelap, belum ada tanda cerah yang pasti. Bahkan kami sempat terhenti beberapa kali karena hujan kembali turun.
Suasana sangat hening. Teriakan kami mencoba memecah kebuntuan, bersambut suara penghuni alam. Angin-angin itu seakan membawa suara kami. Hingga akhirnya kami mendengar suara teriakan. Sepertinya suara itu adalah suara cewek. Kami terus dan terus teriak hingga kami bosan. Dan suara itu membalas teriakan kami. Tapi kami tidak tahu dari mana asal suara itu, yang pasti dari atas kami.
Mungkin ia sedang melihat kami, tapi kami tidak bisa melihat dia. Mungkin itu suara cewek, atau mungkin itu hanya suara. Yang pasti, suara itu menunjukkan dan menyemangati kami, karena setidaknya kami tahu bahwa diatas sana ada orang.
Aku tidak tahu seperti apa orang itu, tapi aku bilang disaat seperti ini, siapapun dia dan seperti apapun dia, saat aku bertemu nanti aku akan mengajaknya berbicara. Ya, paling tidak untuk mengalihkan rasa pegal ini.
Dan setelah kami bosan berteriak, kami yang berempat terpecah menjadi dua. Ary dan Ihsan berada dibarisan depan, sedangkan aku dan Hery masih dibelakang. Dibeberapa posisi, kami tidak bisa melihat keatas dan kebawah karena terhalang kabut tebal. Teriakan kode kami mengukur seberapa jauh kami terpisah. Saat suara itu tidak terdengar, mungkin kami sudah terpisah sangat jauh. Atau mungkin karena mereka lelah.
Kami sudah berjalan tiga jam, jika empat jam perjalanan maka tinggal satu jam lagi. Tapi, sepanjang perjalan, kami tidak menemukan jalan yang datar. Miring dan menanjak. Untuk mencapai jarak lima meter, kami butuh waktu hingga sepuluh menit. Rasanya benar-benar berbeda, berat dan sangat menekan. Tapi aku tetap semangat untuk mencapai garis puncak.
Saat melihat ke atas, aku berharap tinggal satu tangga lagi untuk mencapai puncak. Tapi puncak yang kami harap, entah dimana dia. Tidak ada lagi teriakan, baik aku maupun yang lainnya. Hanya ada bisikan kecil dan ketawa ringan diantara aku dan Hery untuk mengalihkan rasa lelah saat kami sedang duduk istirahat.
Dan empat jam kami berjalan, akhirnya kami sampai puncak. Awalnya suasana puncak gelap tertutup kabut. Tapi perlahan kabut itu terbawa angin dan cahaya pun mulai tampak.

0 komentar:

Posting Komentar

Contact

Send Me Your Mail


Mohon Kritik dan Saran

Kirimkan kritik dan saran Anda untuk membantu blog ini lebih baik.

Apabila Anda punya pertanyaan, dapat juga melalui komentar.