Jika
mendaki gunung hanya akan menceritakan tentang pahitnya saja tanpa manis, maka
aku akan segera turun. Tapi aku yakin ini menjadi cerita yang sangat indah
untuk diceritakan. Berbeda dengan cerita yang hanya datar-datar saja tanpa
adanya bumbu pahit didalamnya. Semua ini akan meninggalkan kesan yang amat
mendalam dan sangat kuat untuk kami ingat, kami kenang dan kami ceritakan
kelak.
Suasanya hening, mungkin
masing-masing dari kami sedang berfikir, apakah memang seprti ini. Sementara
suara hewan gunung seperti sedang menertawakan kami yang sedang diguyur hujan.
Tapi kami tahu ini hanyalah gertakan alam yang ingin melihat sejauh mana
semangat kami, sebesar apa tekat kami, dan sekuta apa kekuatan kami untuk bisa
sampai kepuncak.
Dan akhirnya kami memutuskan
untuk kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami harus lebih cepat untuk
tiba dipuncak karena cuaca sekitar masih gelap, belum ada tanda cerah yang
pasti. Bahkan kami sempat terhenti beberapa kali karena hujan kembali turun.
Suasana sangat hening. Teriakan
kami mencoba memecah kebuntuan, bersambut suara penghuni alam. Angin-angin itu
seakan membawa suara kami. Hingga akhirnya kami mendengar suara teriakan.
Sepertinya suara itu adalah suara cewek. Kami terus dan terus teriak hingga
kami bosan. Dan suara itu membalas teriakan kami. Tapi kami tidak tahu dari
mana asal suara itu, yang pasti dari atas kami.
Mungkin ia sedang melihat kami,
tapi kami tidak bisa melihat dia. Mungkin itu suara cewek, atau mungkin itu
hanya suara. Yang pasti, suara itu menunjukkan dan menyemangati kami, karena
setidaknya kami tahu bahwa diatas sana ada orang.
Aku tidak tahu seperti apa
orang itu, tapi aku bilang disaat seperti ini, siapapun dia dan seperti apapun
dia, saat aku bertemu nanti aku akan mengajaknya berbicara. Ya, paling tidak
untuk mengalihkan rasa pegal ini.
Dan setelah kami bosan
berteriak, kami yang berempat terpecah menjadi dua. Ary dan Ihsan berada
dibarisan depan, sedangkan aku dan Hery masih dibelakang. Dibeberapa posisi, kami
tidak bisa melihat keatas dan kebawah karena terhalang kabut tebal. Teriakan
kode kami mengukur seberapa jauh kami terpisah. Saat suara itu tidak terdengar,
mungkin kami sudah terpisah sangat jauh. Atau mungkin karena mereka lelah.
Kami sudah berjalan tiga jam,
jika empat jam perjalanan maka tinggal satu jam lagi. Tapi, sepanjang perjalan,
kami tidak menemukan jalan yang datar. Miring dan menanjak. Untuk mencapai
jarak lima meter, kami butuh waktu hingga sepuluh menit. Rasanya benar-benar
berbeda, berat dan sangat menekan. Tapi aku tetap semangat untuk mencapai garis
puncak.
Saat melihat ke atas, aku
berharap tinggal satu tangga lagi untuk mencapai puncak. Tapi puncak yang kami
harap, entah dimana dia. Tidak ada lagi teriakan, baik aku maupun yang lainnya.
Hanya ada bisikan kecil dan ketawa ringan diantara aku dan Hery untuk
mengalihkan rasa lelah saat kami sedang duduk istirahat.
Dan empat jam kami berjalan,
akhirnya kami sampai puncak. Awalnya suasana puncak gelap tertutup kabut. Tapi
perlahan kabut itu terbawa angin dan cahaya pun mulai tampak.
0 komentar:
Posting Komentar